5 Kebiasaan Sepele Pemicu Ketombe yang Sering Diabaikan
Ketombe seringkali muncul akibat kebiasaan sehari-hari yang tidak disadari. Dari jarang keramas hingga penggunaan air panas, kenali lima pemicu utama ketombe dan cara mengatasinya agar kulit kepala kembali sehat.
Lebih dari 50 persen populasi dunia pernah mengalami ketombe, kondisi kulit kepala kronis yang ditandai dengan pengelupasan kulit.
Gejala umum ketombe meliputi serpihan kulit mati berwarna putih atau kekuningan yang berminyak dan gatal, sering terlihat di rambut atau jatuh ke bahu.
Meski tidak berbahaya dan tidak menular, ketombe dapat mengganggu penampilan dan menurunkan rasa percaya diri. Pemahaman tentang kebiasaan sepele yang memicunya adalah langkah awal untuk mengatasi masalah ini.
Berikut 5 kebiasaan yang sering kali luput dari perhatian, namun berpotensi besar menyebabkan ketombe pada rambut kamu:
1. Jarang Keramas
Kebiasaan tidak rutin membersihkan rambut menyebabkan penumpukan minyak alami atau sebum, kotoran, dan sel-sel kulit mati di kulit kepala. Lingkungan yang kotor dan berminyak ini menjadi tempat ideal bagi jamur Malassezia globosa untuk berkembang biak. Jamur ini merupakan salah satu penyebab utama ketombe karena memicu pergantian sel kulit yang cepat.
2. Tidak Membilas Sampo dengan Bersih
Sisa-sisa sampo atau produk perawatan rambut yang tertinggal di kulit kepala setelah keramas dapat mengiritasi kulit kepala.
Residu ini kemudian bercampur dengan debu dan kotoran, mempercepat pergantian sel kulit yang berujung pada penumpukan. Penumpukan tersebut kemudian mengelupas sebagai serpihan ketombe yang mengganggu.
3. Tidur dengan Rambut Basah atau Memakai Penutup Kepala saat Rambut Basah
Kebiasaan ini membuat kulit kepala menjadi lembap dalam waktu yang lama, menciptakan lingkungan ideal bagi jamur Malassezia untuk tumbuh subur. Kondisi lembap yang berkepanjangan disukai jamur, memicu pertumbuhan berlebih yang menjadi penyebab utama ketombe. Selain itu, rambut basah juga dapat merusak kutikula rambut seiring waktu.
4. Menggunakan Produk Rambut yang Tidak Sesuai atau Sering Gonta-ganti Sampo
Memilih produk perawatan rambut yang tidak cocok dengan jenis rambut dan kulit kepala dapat menyebabkan iritasi.
Beberapa produk mungkin mengandung bahan kimia keras yang mengeringkan atau justru memicu produksi minyak berlebih, keduanya dapat memperburuk kondisi ketombe.
Sering mengganti sampo juga bisa mengganggu keseimbangan alami kulit kepala, memicu ketidakstabilan pH.
5. Keramas dengan Air Panas
Air panas dapat menghilangkan minyak alami dari kulit kepala secara berlebihan, menyebabkan kulit kepala menjadi kering dan iritasi. Kulit kepala yang kering rentan mengelupas dan membentuk serpihan ketombe.
Oleh karena itu, disarankan untuk keramas dengan air hangat atau dingin untuk menjaga kelembapan alami kulit kepala.
Selain kebiasaan di atas, ketombe juga bisa disebabkan oleh kondisi medis seperti dermatitis seboroik, pertumbuhan berlebih jamur Malassezia globosa, kulit kepala kering atau berminyak, serta sensitivitas terhadap produk tertentu. Stres, pola makan tidak sehat, perubahan hormon, dan kondisi medis tertentu seperti eksim atau psoriasis juga dapat memperburuk masalah ketombe.
Untuk mengatasi ketombe, kamu bisa menggunakan sampo antiketombe yang mengandung bahan aktif seperti piroctone olamine atau pyrithione zinc. Pastikan membilas rambut dengan bersih, mengelola stres, dan menerapkan pola makan sehat yang kaya zinc serta vitamin B. Hindari keramas dengan air panas dan pertimbangkan penggunaan kondisioner antiketombe. Beberapa perawatan alami seperti minyak kelapa, lidah buaya, soda kue, atau tea tree oil juga dapat membantu meredakan gejala. Menyisir rambut secara teratur dan membatasi penggunaan produk styling berlebihan juga penting.
Memahami penyebab ketombe adalah langkah pertama untuk penanganan yang tepat.
Dengan mengubah kebiasaan sepele sehari-hari dan menerapkan perawatan yang sesuai, masalah ketombe dapat diatasi dan dicegah agar tidak kembali.
Jika ketombe tidak membaik dengan sampo antiketombe atau disertai gejala parah seperti kemerahan, bengkak, atau nyeri, disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter untuk penanganan lebih lanjut.
Disusun dengan bantuan penelusuran web dari: hellosehat.com, zalora.co.id, headandshoulders.co.id, halodoc.com, jawapos.com, idntimes.com, alodokter.com, cnnindonesia.com.
